Header Ads

Mengenang Setahun Meninggalnya Pdt Alexander Werupangkey, Istri Tercinta Tegar Jalani Hidup Sendiri


 Manado,Editorialsulut.com - Senyuman sendu, masih terlihat di wajah manis, Silvia N. Walalangi, istri alamrhum Pdt Alexander Werupangkey, guru agama yang tewas karena dibunuh siswanya sendiri, 21 Oktober 2019 silam, saat bersua dengan jurnalis media ini, di salah satu rumah kopi, di Manado. 

Bahkan airmata langsung menetes di sudut mata, perempuan cantik berusia 42 tahun itu, kala mengatakan masih tetap mengenakan pakaian berwarna hitam, tanda duka mendalam karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya. 

"Hai baku dapa ulang? somo satu taong kang, nyanda rasa eh, masih rupa kemarin tu peristiwa, masih tabayang pa qta eh," ujarnya dalam dialek Manado, sambil menyeka airmata yang tanpa sadar kembali menetas di sudut matanya. 

Sil, demikian perempuan yang berstatus ASN di Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Minahasa dan menjabat sebagai Kepala Seksi Koordinasi dan Peningkatan Layanan  di Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu, itu, mengaku masih tetap terkenang dengan sang kekasih hati meski, setahun sudah keduanya terpisahkan oleh maut, akibat ulah FL dan OU dua siswa yang tak terima ditegur gurunya, karena mabuk saat jam pelajaran. 

Meski mengatakan sudah memberikan maaf dan pengampunan pada kedua pelaku pembunuhan Pendeta Valen, sapaan akrab almarhum suaminya, tetapi Sil, tetap teringat bagaimana tangisannya di PN Manado, saat pertama kali menatap wajah kedua pembunuh suamimnya. 

"Seribu rasa berkecamuk di hati saya, sampai saat ini, tetapi setelah enam bulan berlalu, saya baru bisa berdoa, sambil bersyukur untuk semua keadaan yang Tuhan izinkan saya alami saat ini, awal-awalnya, salam setiap doa dan telut saya, hanya airmata yang menitik dan bertanya mengapa," katanya sendu. 

Setahun berlalu, Sil, mengakui menyibukan dirinya dengan berbagai aktivitas di kantor dan pelayanan supaya bisa membunuh rasa sepi dan kesedihan yang terus datang. 

"Apalagi kalau mengingat selama masa perkawinan kami, dia selalu datang menjemput saya di kantor setiap sore, rasanya tidak tahan mau menangis kalau jam kerja usai, karena masih sering teringat biasanya dia sudah di ruangan depan, bergurau dengan teman-teman sekerja saya, sebelum kami pulang," katanya. 

Setahun berlalu ini, Sil, mengatakan, salah satu kebiasaan hidupnya barunya yang selalu dilakukan, ada berziarah ke makam, sang belahan jiwa, melepaskan rindu sambil membersihkan peristirahatan terakhir suaminya. 

"Semasa hidup, dia sangat sayang pada saya, karena itu saya punya waktu khusus mengunjungi makamnya dan membawa bunga tanda cinta baginya," katanya. 

Dia berharap sang suami berbahagia bersama Tuhan dalam keabadian, dan berjanji meneruskan hidupnya dengan semua kenangan indah kebersamaan mereka. 

"Hidup memang harus berlanjut, tetapi Valen selalu abadi di hati saya," katanya.(Dims)

block ID 8794 : editorialsulut.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.