Header Ads

Kangkangi Kebijakan Jokowi, Pertamina Sulut Takut Tindak APMS Karya Maranatha

Rakyat Talaud Kian Merana, Jatah BBM Makin Sedikit Tapi Harga Diatas Pasaran



Situasi saat pelayanan APMS Karya Maranatha.(ist)



Melonguane, BLITZ--"Anak emas" PT Pertamina wilayah Sulawesi Utara di Kabupaten Talaud nampaknya sudah semakin sekarat.

Bukti nyata masyarakat Talaud yang menjadi wilayah penyaluran yakni Pulau Salibabu, Kabaruan dan Sebagian Melonguane, kini tidak mendapatkan kuota BBM Premium.


Lebih lagi, Pembongkaran BBM pada Jumat (3/8) dan penyaluran pada Sabtu (4/8), berdasarkan temuan dan pantauan di lokasi APMS Karya Maranatha, BBM jenis Pemium yang ditebus ternyata hanya 21 Kilo Liter dari quota 75 KIlo Liter.


Pimpinan cabang anak emas Pertamina di Talaud ini, sayangnya sengaja menghindar dan tidak mau menemui media yang ingin meminta klarifikasi dan konfirmasi.


Padahal hingga 4 jam para media sudah menunggu tapi yang bersangkutan tidak kelihatan batang hidungnya.


Informasi justru datang dari Bendahara APMS Karya Maranatha bernama Anty, mengatakan data-data menyangkut BBM ada di pimpinan cabang (Pimcab).

"Dia pe data ada pa Pimcab, tunggu jo kwa, nanti kita mo telepon suruh dia datang (Data masuk BBM cuma ada di Pimcab, boleh menunggu nanti saya yang telepon untuk datang ke APMS)," ujar Anty.

Sementara sejumlah agen dan penjual BBM yang menjadi rekanan anak emas Pertamina di Talaud ini baik dari Salibabu, Kabaruan maupun Melonguane, sengaja datang untuk meminta pulang dana talangannya, dikarenakan sudah dua trip BBM masuk tidak diberikan jatah BBM.


"Torang ini so ba bayar di muka, mar pas mo ambe minya so nyanda dapa, jadi mo minta pulang jo torang pe doi yang Karya Maranatha yang da minta lalu (Kami diminta menalangi pembayaran BBM, tetapi ketika BBM sudah ada, kami malah tidak diberikan BBM, jadi kami minta kembalikan uang kami)," ketus Opo Lahope.


Rekanan anak emas Pertamina di Talaud lainnya mengatakan, jika Karya Maranatha tidak menepati janjinya, maka mereka akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.
Pasalnya menurut mereka kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menyamaratakan harga BBM ternyata dikangkaki alias dilanggar oleh APMS Karya Maranata.

"Bayangkan saja, katanya program Presiden Jokowi BBM satu harga di seluruh Indonesia, tetapi Karya Maranatha malah menjual diatas harga yang ditetapkan Presiden Jokowi dan celakanya PT Pertamina terlihat sengaja menutup mata dengan perilaku anak emas mereka ini. Ada apa dengan Pertamina dan BPH Migas?," kesal Felmy, pengecer dari Moronge.


Dalam kondisi yang tidak wajar itu, pernyataan mengejutjan diungkapkan anggota Dekab Talaud Komisi II dari Partai Nasdem Voker Pelle.

Menurut Pelle yang begitu melihat awak media mendatangi APMS Karya Maranatha, bahwa semua dalam kondisi aman dan stabil.


"Semua aman dan stabil," singkat Pelle tanpa menjelaskan maksud dari pernyataannya, meski diketahui dari quota 75 KL, yang ditebus oleh APMS 21 KL Premium dan ditengarai, pembayarannya ditalangi oleh pihak di luar APMS.


Kondisi ini semakin menegaskan, anak emas PT Pertamina ini tengah sekarat dan dampaknya adalah masyarakat yang dijanjikan BBM satu harga oleh Presiden Joko Widodo kini semakin sengsara.

Namun justru di tengah kisruh ini PT Pertamina, dinilai banyak kalangan tidak berani menindak tegas APMS Karya Maranata






Den-Dala
block ID 8794 : editorialsulut.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.