Cerita Tiga Legislator Dibalik Unjuk Rasa Warga Malalayang Dua "Solusi Sosialisasi dan Selesaikan dengan Kasih"


Suasana saat pendemo di terima Anggota DPRD Manado.(foto:dimas/editorialsulut)

Manado, EditorialSulut.com--Di balik aksi yang dilakukan beberapa warga Malalayang Dua, yang menolak dan meminta Lurah diganti, karena masalah pemakaman seorang warga bernama Merry Kelatouw, ada hal menarik yang disampaikan oleh tiga legislator yang menerima aksi tersebut.

Politisi muda Partai Golkar, Meikel Maringka, misalnya, yang menerima aksi tersebut, merasa sangat prihatin dengan latarbelakang aksi yang dilakukan warga, yang disebabkan oleh hampir tidak adanya lahan pekuburan bagi warga di wilayah tersebut.


Sebagai legislator yang mewakili masyarakat Sario-Malalayang, dari mana para pengunjuk rasa itu berasal, Meikel, sapaan akrab politisi muda itu, mengatakan harus ada solusi bagi masalah TPU yang selalu masih menjadi keluhan warga selama ini.

"Kemarin satu orang yang nyaris tidak mendapatkan tempat untuk peristirahatan terakhir yang layak, bagaimana nantinya dengan warga yang lain, jadi kami mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah tersebut, dengan pengadaan lahan pekuburan agar tidak lagi menjadi masalah di kemudian hari, dan saat warga ada kejadian tidak menambah sakit hati warga yang berduka," katanya.

Sementara legislator senior yang sering disebut sebagai jendral bintang empatnya, DPRD Manado, Benny Parasan, mengatakan pemerintah harus lebih aktif melakukan sosialisasi mengenai masalah sosial kemasyarakatan sehingga tidak menjadi masalah, termasuk menyampaikan tentang aset-aset daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota termasuk Manado supaya tidak lagi mengulang kejadian di Malalayang Dua itu.

"Harus lebih proaktif pemerintah menyosialisasikan kepada masyarakat tentang lahan-lahan yang menjadi hak miliknya pemerintah, agar ada masalah pemakaman yang dianggap tidak layak oleh warga jangan terulang," katanya.

Bahkan dia mengingatkan, pemerintah terutama di kelurahan harus lebih dekat dengan masyarakat dan menghilangkan batas-batas atau "gape" sehingga tidak dianggap arogan atau tak punya hati oleh masyarakat.

Sedangkan legislator Bobby Daud, menegaskan, bahwa sebagai wakil rakyat, mereka ditugaskan untuk memfasilitasi dan menyelesaikan dan berbagai masalah yang dibawa masyarakat di DPRD Manado dengan penuh kasih dan dicari sampai ke akar-akarnya.

"Berbagai masalah yang timbul itu selalu ada sebabnya, sehingga harus dicari sampai ke akar permasalahannya, kemudian diselesaikan, sehingga tidak berbuntut panjang dan tak membuat warga resah, selesaikan dengan baik dan penuh kasih, itu semuanya aman dan damai, seperti disampaikan oleh Ketua DPRD Manado, ibu kami Dra. Aaltje Dondokambey," katanya.

Boda, sapaan politisi handal dari PAN itu, mengatakan, pemerintah harus bisa merangkul dan mengajak semua stake holders untuk menyelesaikan setiap masalah yang timbul sehingga tidak meresahkan, dan jika dibawa ke DPRD Manado pasti akan difasilitasi dengan penuh kasih.


(Dimas)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.