Header Ads

Ketua Komisi III dan Sejumlah Legislator Adukan Kepala Dinas LH Kepada Wawali



Manado,(editorialsulut.com) - Ketua komisi III DPRD Manado, Ronni Makawata, SE,  bersama sejumlah legislator lintas komisi, mengadukan sikap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manado, kepada bahkan minta agar dievaluasi sebab sikapnya dianggap meremehkan dan tidak menghargai DPRD secara kelembagaan.

Ketua Roma, demikian Makawata biasa disapa  menyampaikan hal tersebut dalam rapat paripurna, dan didengarkan para legislator, pimpinan DPRD serta pejabat yang hadir.

"Saya perlu menyampaikan hal ini, karena kami sudah bekerja dengan baik dan melaksanakan tugas sebagai wakil rakyat dan tidak mencari pencitraan, saat mulai bekerja kami sudah melaporkan dan izin langsung dari ketua DPRD Manado, di rumahnya dan atas restu pimpinan maka kami melakukan tugas dan tanggung jawab kami," katanya.

Dengan lantang, dia mengatakan, banyak hal spektakuler yang ditemukan, saat melakukan Turlap di TPA Sumompo,  dan rata-rata memiriskan karena para buruh sampah mengalami hal-hal yang menyakitkan hati dan diperlakukan tidak manusiawi.

Karena itulah menurutnya, saat memutuskan melakukan solusi jangka pendek, justru mendapatkan penolakan sampai muncul kata pencitraan dan perang pernyataan di media massa.   

"Kami patungan membeli 289 liter dexlite, namun malah ditolak dengan kata-kata apakah ini hibah, utang atau pinjaman, ini sungguh menyakitkan hati dan membuat kami terhina, kami tidak pencitraan waktu kami sudah lewat tahun lalu, jadi yang kami lakukan murni dan tulus untuk melayani masyarakat," katanya.

Dia mengatakan, saat bencana 15 Januari 2014, saat Manado diterjang banjir tidak ada penolakan atau kata-kata kasar dari wali kota Manado untuk  bantuan dari mana-mana, tetapi komisi III yang membantu untuk pelayanan masyarakat malah mendapatkan ucapan yang tidak mengenakan dan dianggap menghina.

Kekesalan juga diungkapkan anggota DPRD Mona Kloer, yang menyesalkan sikap Kadis LH itu dan mengatakan, sangat tidak wajar, demikian juga dengan Wakil ketua Komisi III, Lily Binti, menyesalkan ucapan itu, apalagi sebelum paripurna Kadis hadir, begitu paripurna dimulai malah menghilang, sehingga dianggap juga menganggap remeh wakil wali kota.

Ucapan itu juga disampaikan oleh Benny Parasan yang minta supaya kadis lebih mawas diri dan jangan sembarangan bicara, karena sebagai pamong dengan basic guru harusnya lebih tahu dalam berbicara yang sopan. 

Yang lebih keras adalah ungkapan dari Syarifudin Saafa, yang mengatakan, agar dalam memilih diksi yang baik, jadi minta wawali mengevaluasi sikap kepala dinas dan jabatannya, mumpung masih bisa melakukan roling. (dims)
block ID 8794 : editorialsulut.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.